Antara Cinta dan Terbatasnya Waktu Bunda

Posted on

Tidak ada ibu yang tidak mencintai anaknya. Tapi, seorang ibu butuh waktu untuk mengekspresikan cintanya itu dengan cara yang tepat. Apa persepsi cinta ibu pada si buah hati dan bagaimana mengekspresikannya? Lalu. Sejauh mana pula peran ayah?

Antara Cinta dan Terbatasnya Waktu Bunda
Antara Cinta dan Terbatasnya Waktu Bunda

Kasih ibu sepanjang jalan, dan kasih anak hanyalah sepanjang galah. Ungkapan ini menyiratkan betapa tidak ada yang dapat menandingi kasih seorang ibu terhadap anaknya. Namun, bagi ibu-ibu yang tinggal di kota-kota besar, mengekspresikan cinta pada si kecil ternyata tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Keinginan untuk mengaktualisasikan diri, ditambah dengan iklim persaingan yang tinggi, seakan menarik para ibu untuk berkarya di luar rumah. Bahkan, profesi seorang ibu rumah tangga murni yang mengabdikan dirinya 24 jam sehari di rumah pun kini tidak mudah ditemui. Pada umumnya para ibu rumah tangga ini memiliki kegiatan sosial lain yang mengiringi perannya sebagai ibu.

Padahal cinta butuh waktu. Terutama, waktu agar ekspresi cinta menjadi sebuah cinta yang bertanggung jawab dalam ‘menemani’ tumbuh kembang si kecil. Bagaimana seorang ibu dapat memberikan cinta sesuai dengan kualitas yang diinginkannya pada si buah hati, di tengah keterbatasan waktu serta tuntunan kebutuhan untuk hidup di kota besar seperti di Jakarta?

Cinta yang bertanggung jawab

Cinta memang bersifat universal. Namun, persepsi seseorang terhadap cinta tentulah sangat beragam, terutama jika ekspresi ditujukan pada si buah hati. “Pada dasarnya setiap orangtua memiliki cara yang berbeda-beda dalam mengekspresikan cinta,” ujar Dewi H. Sadewa (31 tahun), karyawan swasta dan ibu dari Ronan (2 tahun). Pendapat ini disempurnakan oleh M. Abdul Aziz (35 tahun), karyawan swasta, ayah dari Erik (4 tahun). Menurutnya, jika seseorang berbicara tentang cinta, maka tanggung jawab adalah salah satu unsur yang terpenting. “Kadang kita sebagai orangtua sering mengatasnamakan cinta, padahal yang berbicara adalah ego kita. Barangkali sebagai orangtua kita harus merefleksikan diri sendiri, apakah yang kita lakukan pada anak itu cinta atau ego.”

 

Perlunya waktu yang cukup

Menanggapi hal ini, Dra. Rose Mini A.P., MPsi, yang akrab disapa Romi ini, menyimpulkan cinta yang diberikan pada anak tentunya cinta yang bertanggung jawab, yakni “Cinta yang diberikan kepada anaknya dari segala sisi yang dibutuhkan untuk membantu ia berkembang .” Sementara itu Sonny Harsono, S.E, pianis yang juga ayah dari Ipang (7 tahun) mengutarakan secara tersirat bahwa untuk dapat memberikan cinta yang bertanggung jawab diperlukan adanya waktu. Hal ini senada dengan yang diutaraan Romi mengenai perlunya waktu yang cukup untuk mengenali kebutuhan anak.

Sayangnya tidak semua ibu memiliki waktu yang cukup bagi buah hatinya. Apalagi bagi para ibu yang hidup di kota besar, dimana waktu untuk membina kebersamaan di kota yang sibuk ini sangatlah minim.

 

Antara kebutuhan diri dan terbatasnya waktu

Hidup di kota besar memang tidaklah hal yang mudah. Apalagi menurut Dra. Erna Karim, seorang Dosen Ilmu Sosiolongi Keluarga pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, saat ini merupakan era dimana makin banyak orang yang keluar rumah. Orang cenderung mengikuti tarikan-tarikan untuk keluar rumah. Maklum pada umumnya para ibu muda di perkotaan memiliki bekal pendidikan yang cukup dan adanya tuntutan untuk mengatualisasikan diri,” jelas Erna, dosen yang mengambil gelar masternya di Malaysia ini.

Apalagi, diantara para ibu, baik ibu yang bekerja maupun ibu rumah tangga, timbul adanya persaingan sosial karena adanya status-status simbol yang dijadikan status reputasi keluarga. Misalnya, seorang yang sudah cukup secara finansial masih merasakan adanya tuntutan untuk meningkatkan reputasi sosial, sehingga merasa perlu untuk terus bekerja atau paling tidak memiliki multi peran dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini yang membuat para ibu rumah tangga juga merasa perlu memilikiaktivitas sosial di luar rumah.

Kebutuhan ini diakui oleh Intan Abdams Katoppo (36 tahun), karyawan swasta dan ibu dari Kiral (4 tahun). Baginya bekerja antara lain merupakan upaya untuk memenuhi egonya. Selain itu, tentu saja untuk mendapatkan rasa aman terhadap kebutuhan finansial bagi si kecil di masa mendatang.

Tentu saja pilihan untuk bekerja maupun beraktivitas di luar rumah meninggalkan konsekuensi seperti yang sudah disinggung sebelumnya, yaitu bertambah minimnya waktu bertemu si kecil. Akibatnya, menurut Romi, ketidaksiapan seorang ibu dalam menghadapi konsekuensi ini dapat membuatnya merasa bersalah. Yang akhirnya membawanya pada keinginan untuk menunjukkan perilaku yang berlebihan bagi si kecil, misalnya memanjakan, demi menutupi rasa bersalahnya. Tentu saja pemanjaan semacam ini tidak dapat disebut mengatasnamakan cinta. Karena, berntuk cinta semacam ini, dapat membutakan orangtua dalam membantu perkembangan anak sesuai dengan kebutuhannya.

 

Diperlukan pengenalan diri dan anak

Walaupun demikian, beraktivitas di luar rumah maupun bekerja bagi seorang ibu tidak selalu berakibat negatif bagi anak. Windri Aziz (32 tahun), karyawan swasta, sekaligus ibu dari Dihra (5 tahun) dan Trisha (2 tahun), yang pernah berhenti bekerja dan memutuskan untukmenjadi ibu rumah tangga selama 2 tahun, merasa tidak bahagia dengan keputusan tersebut. “Menurut saya, semua kebahagiaan yang kita berikan pada anak harus bermula dari kita sendiri. Kalau kita sendiri tidak bahagia dan memiliki masalah, maka kita akan membuat anak juga tidak bahagia,” jelas Windri yang sudah tiga bulan ini bekerja kembali atas dukungan suami dan kedua anaknya. Hal ini serupa juga yang dialami Devi.

Tentu saja tidak mudah bagi Windri maupun Devi untuk memutuskan kembali bekerja. Semua itu membutuhkan proses yang panjang untuk mengenali diri serta menyesuaikannya dengan kebutuhan sang buah hati akan cinta. “Mungkin kalau saya di rumah justru akan menjadi ‘monster’ bagi Dhira dan Trisha,” gurau Windri. Namun, tentu saja tidak semua ibu memutuskan untuk bekerja. Sebagian ibu ternyata justru memutuskan untuk mengurangi porsi pekerjaan, atau secara total berganti peran menjadi ibu rumah tangga, tergantung dari persepsi masing-masing tentang cinta untuk mengekspresikannya pada si kecil.

Contohnya Auk Murat Mannering (32 tahun), ibu dari Nicola (3 tahun) dan Tantiana (1 tahun), yang merasa perlu mengurangi kegiatannya agar dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan kedua anaknya. Bahkan, ia merasa perlu belajar meditasi serta menjadi vegetarian untuk dapat mengurangi tekanan yang dirasakannya akibat bekerja, serta menjadikannya lebih sabar dalam menghadapi anak-anak.

 

Tidak pernah ada ketika dibutuhkan

Kisah Soraya F. Nasution, yang akrab disapa Maya (33 tahun) lain lagi. Ibu dari Naura (6 tahun) dan Nibroos (2 tahun) yang pernah merasakan bahwa pekerjaan membuatnya sangat sibuk, sehingga ia harus sering-sering meninggalkan kedua buah hatinya ke luar negeri, ternyata berdampak buruk pada perkembangan mental si sulung. “Anak saya menjadi keras dan cenderung kasar, padahal ia perempuan. Mungkin dia merasa ibunya tidak pernah ada di sampingnya setiap ia membutuhkan, dan pengasuh hanya berusaha membuat anak ini diam tanpa memikirkan nilai pendidikannya,” ungkap Maya. Hal seperti ini yang memicu Maya untuk meninggalkan pekerjaannya yang gemilang dan memilih menjadi ibu rumah tangga murni.

Sedangkan Isdina Pancawardani (35 tahun), ibu dari Indi (7 tahun), Inette (5 tahun) , Inoi (3 tahun) dan Inaf (2 tahun), merasa cukup puas menjadi ibu rumah tangga bagi keempat anaknya. Menurutnya, menjadi ibu rumah tangga, saya bisa benar-benar sepenuh hati berada di rumah merawat dan memberikan perhatian yang penuh terhadap anak tanpa mempunyai pikiran yang bercabang dengan pekerjaan di kantor.

 

Perhatikan konsekuensinya

Menurut Romi, apakah seorang ibu itu bekerja ataupun tidak, ia memiliki kapasitas untuk memberikan cinta yang bertanggung jawab dengan cara dan gaya masing-masing. Hanya yang perlu diingat, jika mau melakukan sesuatu, ada konsekuensi positif maupun negatif. Sehingga, seorang ibu sebelum memutuskan apakah akan bekerja atau tidak, harus siap mengahadapi semua konsekuensi sesuai dengan jalan yang diambilnya.

Windri menambahkan, “Sepertinya kita juga harus ikhlas menerima pilihan yang telah kita ambil. Jika waktu itu saya ikhlas menjadi ibu rumah tangga, tentu saya tidak harus merasa bersalah karena saya tidak dapat membelikan anak saya sepatu bagus, misalnya.” Pendapat Windri ini disetujui oleh Romi yang mengatakan bahwa untuk menjadi ikhlas tidak mudah, namun hal itu sangat diperlukan untuk dapat menjalani apapun profesi yang telah dipilih dengan baik serta menghilangkan rasa bersalah yang tidak perlu.

 

Skala prioritas

Selain itu, Romi juga menyinggung tentang perlunya skala prioritas untuk mendahulukan hal yang dirasakan penting. Dalam hal ini, terutama bagi seorang ibu yang bekerja, perlu memiliki kemampuan untuk memilah apa yang perlu diprioritaskan, dan hal itu tidak selalu harus keluarga. Karena ada kalanya seorang ibu harus mementingkan pekerjaan, tergantung dari apa yang sedang dihadapi pada saat itu. Semisal, didalam pekerjaannya ada sesuatu hal mendesak yang perlu dikerjakan, sedangkan pada waktu itu juga ia harus menemani anaknya untuk pergi mengantar ia les. Hal ini bisa disiasati, jika ada seseorang yang bisa menggantikan dia untuk mengantar anaknya, maka tidak harus ibu yang harus mengantarnya karena ada hal yang penting dan tidak bisa ditunda. Jelaskan dengan bahasa yang halus, sehingga anak tidak merasa kecewa dengan hal tersebut. Namun, jika di lain waktu ia bisa mengantar anaknya, luangkanlah waktu demi si anak.

 

Perlu adanyab dukungan suami

Memang tidak mudah jika seorang ibu harus menanggung semua konsekuensi dari pilihan profesi yang telah dipilihnya. Karenanya, Dina merasa beruntung akan perhatian dan dukungan sang suami. Suaminya, yang bekerja di sektor swasta ini, sangat mendahulukan kepentingan keluarga dan mau menggantikan tugasnya untuk menyuapi atau memandikan anak-anak di sela-sela waktu luangnya. Hal ini diakui Dina sebagai satu bentuk dukungan yang sangat berarti baginya.

Di sisi lain, Raphael Soesanto (37 tahun), ayah dari Regina Anjani (7 tahun) dan David Raditya (5 tahun) sependapat dengan istrinya yang bekerja. “Saya pikir ada baiknya bila seorang istri itu bekerja. Karena saya perhatikan, anak yang ibunya bekerja kok jadi lebih mandiri,” ujarnya. Dia juga bisa bernegosiasi dengan sang istri jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya anak sakit, untuk menemani si kecil di rumah. “Ketika si kecil tidak enak badan, saya justru lebih tenang jika saya ada di dekatnya,” ungkap Raphael.

Dalam hal ini, Auk mengakui pentingnya team work dalam sebuah keluarga. Supaya kerja sama serta negosiasi yang terjadi antara suami dan istri berhasil mengahdirkan cinta bagi sang buah hati, Romi juga menekankan adanya komunikasi satu sama lain. Menurutnya, suami maupun istri harus tahu apa yang sedang terjadi dengan pasangannya, sehingga masing-masing bisa saling berempati jika terjadi masalah.